Minut - Tahapan penerimaan pendamping desa telah memasuki tahap seleksi tes tulis yang melibatkan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang ditunjuk di masing-masing provinsi untuk menjamin transparan dan akuntabel. Khusus di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) yang ditunjuk untuk melakukan seleksi.

"Saat ini perguruan tinggi sudah biasa melakukan seleksi dan tes semacam ini, dijamin tidak akan ada kecurangan. Kita bekerja dengan independen, professional, akuntabel, dan dengan indikator yang sangat terukur," ujar Ketua Panitia Seleksi, Dr Billy Th Wagey kepada awak media, disela-sela tes tertulis yang digelar di Hotel Sutan Raja Minut, Sabtu (28/05/2016).

Calon pendamping desa ketika mengikuti tes tertulis di Hotel Sutan Raja, Minut.
Lanjut dikatakan Akademisi Unsrat ini, dalam proses seleksi pihak panitia didampingi langsung oleh tim dari Kementrian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi serta Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMD) Provinsi Sulut.

"Dengan komposisi ini, tidak bisa ada orang-orang titipan. Kami pastikan proses seleksi ini independen, tidak ada kepentingan apapun, tidak ada yang bisa menekan," ujar dia.

Dari sisi keterbukaan, kata Wagey, masyarakat juga bisa melihat apa saja indikator kelolosan untuk menjadi pedamping desa, mereka yang lolos nantinya merupakan SDM pilihan yang akan membangun desa.

"Saat proses seleksi tertulis, wawancara, dan verifikasi kompetensinya nilainya pasti bagus. Itu kan secara kuantitatif sudah bisa terukur. Para peserta di tahap tes tertulis harus menjawab 50 soal dengan pasing grade 60 persen dan setelah itu yang lolos akan mengikuti psikotes Tanggal 1 Juni 2016 dan peserta yang lolos akan dievaluasi dari tim seleksi melalui uji kualifikasi. Selanjutnya tahapan akhir adalah pengumuman hasil," tukasnya, sembari menambahkan bahwa peserta calon pendamping desa yang ikut tes tertulis kurang lebih 1000 orang. (john)