Manado - Proses kaderisasi di tubuh Partai Golkar Sulut sepertinya belum mampu melahirkan politisi-politisi baru untuk mendapatkan kepercayaan sebagai nahkoda partai. Ketangguhan Stevanus Vreeke Runtu (SVR) dalam berpolitik menjadi sandungan utamanya. Hal itu dibuktikan  lewat hasil Musyawarah Daerah (Musda) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar ke IX, yang kembali memandatkan SVR guna menjalankan tugas sebagai ketua partai untuk periode 2016-2021. 

SVR ketika menerima Pataka dari Theo Sambuaga
Terpilihnya SVR sebagai nahkoda partai yang serta merta mengkandaskan peluang kader-kader muda Beringin untuk tampil sebagai ketua, memang sudah diprediksikan sebelumnya. Pasalnya, sebagai pemegang status incumbent, pengaruh SVR  dikalangan elit Golkar Sulut  sulit untuk diimbangi kader lainnya.

Kedekatan dengan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar Aburizal Bakrie, ikut pula melengkapi ketangguhannya. Alhasil, tampil sebagai calon tunggal dalam musda yang hanya mengedepankan system musyawarah dan mufakat, SVR akhirnya terpilih secara aklamasi sebagai ketua. 
Menariknya, dibalik sukses SVR itu justru merebak adanya indikasi belum maksimalnya proses regenerasi sekaligus memberi signal minimnya kader muda potensial yang bisa diorbitkan untuk mengarsiteki Golkar Sulut, termasuk tidak terakomodirnya dalam Musda sejumlah tokoh Golkar, akibat terpicu konflik yang mendera partai di tingkat pusat. Padahal, secara lugas

Ketua Umum DPP Golkar Aburizal Bakrie telah mengingtakan pentingnya proses regenerasi di tubuh partai, dan mengisyaratkan sekaligus menyerukan kader Golkar untuk memilih ketua umum yang diangap pantas, guna menghadapi agenda politik ditahun-tahun kedepan baik pilkada, pilcaleg maupun Pilpres, sekaligus mampu membawa partai Golkar merebut kembali kejayaan yang pernah diraih.  

“Kita mengharapkan didalam memilih ketua umum yang akan datang, ada dua  hal yang harus dilihat, yaitu latar belakang untuk menilai sikap pribadi maisng-masing dan kedua apakah bisa memperkuat dan memenangkan Golkar dalam pertarungan yang akan datang,” ujarnya.

Bahkan dalam sambutannya ketika membuka Musda, ARB dengan serta merta mencontohkan kearifannya untuk melepaskan egoisme pribadi demi menyatukan Golkar tanpa ada lagi perbedaan kubu.

"Kalau ada pertentangan pribadi, kita kurangi, sikap ego kita kecilkan, sekecil- kecilnya. Kalau ini menjadi kekukatan kita, menjadi tekad kita, saya yakin Golkar akan jaya. Seperti saya menghilangkan ego pribadi untuk kepentingan partai golkar. Saudara-saudara juga bisa melakukan hal itu,” ulas ARB dalam sambutan saat membuka secara resmi gelaran Musda Golkar Sulut ke IX, di Manado, Senin (22/2/2016).

Dibagian lain, srikandi Partai Golkar Inggrid Sondakh saat dimintai tanggapan seputar pelaksanaan dan hasil musda, dengan serta merta menampik indikasi minimnya kader yang dimiliki partai pasca terpilihnya kembali SVR sebagai Ketua Golkar.

“Kalau mau dibilang kader Partai Golkar, kan pasti banyak, sangat banyak bahkan. Tetapi dalam kondisi saat ini bapak Vreeke Runtu masih dinilai sebagai kader ternaik untuk memimpin Golkar Sulut,” ujarnya,  .

Ditegaskannya bahwa bukan berarti seseorang yang memasuki periode kedua, berarti kaderisasi tidak jalan. Itu dibuktikan lewat hasil musda sebagaimana pilihan para pemegang suara atau voters.

“Itukan bukan hanya satu orang yang memilih, tetapi ada sekian belas belas suara yang menyatakan dukungan. Itukan berarti hak pilih ada pada mereka dan itu dalah hak mereka untuk menyatakan pilihannya dengan memilih pak Vreeke Runtu,” ujar Sondakh.

Sebelumnya, anggota fraksi partai Golkar  di DPRD Sulut ini memastikan jika Musda telah berjalan dengan baik.  

”Pelaksanaan Musda sudah berjalan dengan baik dan tadi malam sudah terpilih secara aklamasi bapak Stevanus Vreeke Runtu sebagai ketua Partai Golkar Sulut untuk periode yang kedua. Semua kabupaten kota, organisasi sayap serta organisasi yang mendirikan dan didirikan, semuanya secara jelas telah menyatakan dukungannya, sehingga pemilihan dilakukan secara aklamasi,” ujar anggota komisi IV DPRD Sulut itu.(john)